Sabtu, 02 Juli 2016

Book Rant: Antologi Rasa by Ika Natassa

Well, well, well. First, this is not a spoiler-free rant, read this on your own risk.
I just can't believe that I've spent nearly 3 hours just to be hugely disappointed by a freaking novel. Ika Natassa jadi nama yang menonjol diantara sekian banyaknya nama penulis yang aku jumpai di toko buku, dan semua itu karena aku sangat menyukai Critical Eleven, novel paling baru yang ia terbitkan beberapa waktu yang lalu. Setelah jatuh cinta dengan novel tersebut, aku mulai mencari novel-novelnya yang lain dan Antologi Rasa disebut sebagai novel kedua yang paling memuaskan dari penulis yang satu ini. 


02.11.

Aku menulis sedini ini hanya karena sebuah novel yang 1-2 jam yang lalu membuatku super kesal dengan isinya dan aku bahkan sudah membeli 3 buah novel lain yang merupakan tulisan dari Ika Natassa sendiri. Kalo boleh jujur, I'm loving Critical Eleven SO MUCH MORE than this book. Walaupun kedua novel tersebut memiliki beberapa persamaan yang membuatku menyukai tulisan Ika Natassa, Antologi Rasa adalah salah satu novel yang membuatku super excited di beberapa bab awal, super bosan di tengah-tengah, sampai akhirnya aku memutuskan untuk langsung loncat ke akhir novel karena aku merasa tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan novel ini meskipun masih ada beberapa puluhan lembar yang masih tersisa yang belum kusentuh ataupun kulirik.

Meskipun klise, aku menyukai apa yang ditawarkan oleh Ika Natassa pada novel ini; self-centered character with loads of elegant hobbies which I couln't even count. Kosakata bahasa inggris yang bertebaran disana sini sempat membuatku ciut karena bahasa inggrisku yang bisa dinilai pas-pasan, tapi aku sepertinya mengerti mengapa Ika Natassa mencoba untuk mencampurkan dua bahasa ini dalam novel-novelnya. Ada kalanya, bahasa inggris menjadi media yang lebih tepat dalam mengekspresikan suatu perasaan, dan seperti yang aku harapkan, penggunaan bahasa inggris di sini sangat membantuku dalam menikmati novel ini.

Ok, next to the main topic of this post.

Pertama, Keara. JUJUR AJA YA, KEARA ADALAH SALAH SATU KARAKTER HEROINE YANG PALING MENYEBALKAN SEPANJANG MASA. One-sided crush-nya terhadap Ruly sama sekali tidak membuatku bersimpati padanya. Yang aku liat hanya seorang wanita yang terlalu terobsesi pada 1 laki-laki, yang membuatnya menjadikan laki-laki lain sebagai pelarian. Aku benci antik-antiknya yang terlihat fake didepan Ruly. Aku benci bagaimana dia berasumsi tentang Harris setelah malam yang mereka berdua habiskan di Singapura, padahal yang memulai semua itu adalah dia sendiri-_-Aku benci cara dia memperlakukan Panji, lalu bermonolog bahwa dirinya sudah melupakan Ruly, hanya untuk pada akhirnya kembali jatuh cinta dengan Ruly. Dan lebih daripada semua itu, aku benci cara dia memperlakukan Harris.

Keara seperti melupakan bahwa Harris adalah orang yang berbagi setiap kegilaan dirinya bersama-sama, tempatnya curhat, tempat bagi dirinya untuk bisa melepas penat & bebas melakukan apa saja. Keara seperti melupakan bahwa Harris adalah orang yang mencoba mengerti atas kemarahan tidak masuk akalnya mengenai malam yang mereka habiskan di Singapura, padahal 50% kesalahan itu adalah karena dia sendiri.

Dan aku sebenarnya tidak bisa mengerti apa yang diinginkan penulis dengan Keara ini. Dia dijelaskan terlalu plin-plan, terlalu nge-stuck dengan Ruly, dan terlalu jahat dengan Harris. Sebenernya, Keara ini maunya sama siapa sih?

Kedua, Harris. THE MOST TYPICAL PERFECT MAN WITH FUCKING ADORABLE TRAITS. Novel ini ditulis dalam beberapa pandangan, dan aku menikmati pandangan yang diberikan Harris di sepanjang novel ini. Candaannya yang seksis, crush-nya dengan Keara yang kelewat imut, ataupun tulisan mengenai betapa frustasi dirinya dengan Keara yang menurutnya terlalu unpredictable di setiap aksi cewek itu. Cara menceritakan bagaimana dia menyukai Keara, bagaimana cara dia mengekspresikan Keara, membuat Harris sebagai karakter terfavoritku di novel ini. Candaannya yang penuh unsur seksis tapi tetap kocak, kesukaannya dengan F1, dan semuanya. I love Harris Risjad to the moon and back.

Ketiga, Ruly. 1ST MOST USELESS SECONDARY CHARACTER. Aku sempat menyukai Ruly di awal-awal, karena antik-antiknya yang mengingatkanku dengan Harris. Cara dia mendeskripsikan working life-nya yang begitu membosankan hingga mendapat titel cungpret (kacung kampret) yang membuatku tertawa keras-keras di tengah malam begini. Tapi di pertengahan, Ruly mulai bersikap out of character dengan sudden crush-nya dengan Keara, dan itu sempat membuatku sebal dan membuatku bosan membaca tulisan dari sudut pandangannya. Ceritanya dengan Keara terasa seperti filler, dan itu juga yang membuatku loncat langsung ke ending. 

Keempat, Panji. 2ND MOST USELESS SECONDARY CHARACTER. He's useless. That's it. Aku tidak merasa tertarik sedikitpun dengannya, dan aku merasa perannya disini hanya buang-buang waktu saja. Tidak ada purpose yang jelas mengenai KENAPA dia ada di sini.

Kelima, Denise. 3ND MOST USELESS SECONDARY CHARACTER. Dia seharusnya menjadi salah satu karakter utama disini, dan yang aku temui malah sedikitnya detail tentang Denise. Sama seperti Panji, aku juga gak tau apa impact-nya dia ada disini.

Novel ini terlalu sibuk menjelaskan keunikan-keunikan karakternya dan melupakan apa fokus utama plotnya. Keara, Harris, dan Ruly tidak seperti berada di dalam cinta segitiga yang rumit. Yang aku lihat hanya sebuah novel yang berusaha menghubungkan suatu pasangan tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya membuat mereka jadi seperti mereka yang sekarang ini. Intinya, karakter-karakternya super egois. Keara dengan obsesinya dengan Ruly, Ruly dengan kehidupannya dan juga Denise, Harris dengan Keara. Ruly disini terasa out of place, dan aku masih gak bisa ngerti kenapa Keara sama sekali gak merasa adanya impact Harris dalam hidupnya. Yang dia sibuk ceritakan adalah bagaimana cara dia melupakan Ruly dan bla bla bla. Sebenernya end-game disini siapa sih?Ruly atau Harris?-____-

Dan setelah tahu endingnya, aku malah melengos. Butuh lebih dari 300 halaman untuk Keara sadar siapa yang pantas dikejarnya, yang selalu ada disampingnya tanpa meminta apa-apa, yang diam-diam berusaha keras untuk membuatnya tertawa. AND I WAS JUST LIKE WHY NOW, GIRL.

Intinya, kalo bukan karena Harris Risjad, aku bahkan gak sudi ngasih ini 2 dari 5 bintang di goodreads. His existence is the sole reason of why I'm still holding back my anger towards the rest of character. 

Subjectively, Antologi Rasa wasn't the worst out there, but definitely not as good as I expected it'd be. The writer seemed to lose the focus in the middle part, and finally lose the novel's main plot on the time she decieded to waste hundreds of paper to only return to the very beginning part of this which I personally found exciting & sexy. But aside that, I still find myself trying to read more of Ika Natassa's works, bcs I don't think her writing was the reason of why I didn't like this novel at the first place. Ika's writing was actually enjoyably fun even though I need to keep my english dictionary close to me bcs some words are just too hard to understand for a kid like me xD

Rating: 2/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Book Rant: Antologi Rasa by Ika Natassa

Well, well, well. First, this is not a spoiler-free rant, read this on your own risk. I just can't believe that I've spent nea...