Senin, 04 Agustus 2014

Thoughts on Drama: It's Okay, That's Love Episode 3-4

Yap, aku memutuskan membuat Thoughts on Drama-nya setelah memikirkan beberapa konsekuensinya. Yang jelas, untuk drama ini, aku menggabungkan 2 episode dalam satu postingan, karena setelah menulis You’re All Surrounded, aku merasa satu postingan untuk satu episode itu melelahkan.

Melewati dua episode perdana drama ini, tidak bisa dipungkiri bahwa drama ini termasuk salah satu drama paling menarik dari segi plotnya. Interaksi 2 karakter utamanya benar-benar menarik untuk diikuti melihat latar belakang mereka yang berkaitan erat dengan penyakit kejiwaan. Ini dua episode yang akan menunjukkan bahwa di dunia ini ada juga orang yang dengan segala ketidaksempurnaannya memilih untuk bertahan dengan masa lalu & trauma yang dimilikinya. Bahwa dunia ini tidak terlihat sesempurna yang kita pikirkan. 
---

Salah satu alasan mengapa drama ini sangat melekat di hatiku adalah setiap detik dalam drama ini selalu memiliki cara untuk membuat kita berpikir sekali lagi tentang kehidupan masa kini. Kehidupan yang mungkin terlihat serbabisa, namun ternyata masih ada rahasia-rahasia gelap yang tersembunyi dibalik kesempurnaan dunia ini. Bahwa seharusnya kita manusia bisa bersikap lebih terbuka terhadap orang-orang yang masih menggenggam ‘rahasia gelap dunia’ ini. Mengulurkan tangan dan membantu satu sama lain untuk menyembuhkan luka akibat pahitnya takdir yang mungkin kita alami.

Aku yang mulanya berharap untuk sebuah rom-com ringan pun harus mengubah pikiranku saat menonton drama ini. Drama ini termasuk drama yang ‘mungkin’ paling sulit dicerna karena keterkaitan karakternya yang sangat kuat namun kompleks. Kompleksitas inilah yang membuat drama ini menarik dari caranya menceritakan tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh yang kita pikir sempurna, tapi memiliki luka yang lebih dalam daripada orang yang pernah kita kenal.
Aku sangat menyukai drama ini. Setiap detiknya, aku akan berpikir bahwa drama ini mungkin akan membosankan, namun di detik selanjutnya aku sudah terlarut dan tanpa sadar menonton hingga akhir menit drama ini. Setiap episode-nya selalu memberikan kejutan yang berbeda, namun anehnya aku selalu merasakan perasaan yang sama di setiap akhir episode. Yang paling menarik adalah bahwa drama ini selalu meletakkan adegan paling baik di akhir episode. Dan ini membuatku sedikit merasa aneh setiap kali menyelesaikan satu episode dari drama ini.

Karakter-karakternya sangat mudah untuk disukai, dan setiap karakter selalu memiliki problematika yang tanpa kita sadari menjadi salah satu titik utama dalam drama ini. Penulis mengambil banyak sampel penyakit terkait dengan kejiwaan yang memang tidak mudah kita jumpai namun dengan karakteristik para pemain yang sangat mudah kita jumpai.
Mulai dari Ji Haesoo. Mungkin karena aku menyukai tipikal wanita seperti Haesoo ini, aku mulai menyadari bahwa Haesoo sendiri adalah karakter yang tidak sempurna. Trauma-nya terhadap seks mungkin terdengar sedikit ‘vulgar’, tapi aku merasa mengerti dengan yang dihadapinya. Ada beberapa hal yang membuatku bingung terkait dengan alasan mengapa Haesoo mengalami trauma terhadap seks, tapi lambat laun aku merasa mengerti dan akhirnya memutuskan untuk menonton drama ini tanpa terlalu banyak mengeluarkan spekulasi.
Tetapi drama ini selalu saja menimbulkan banyak pertanyaan terhadap latar belakang masing-masing karakter yang masih terlihat kabur, dan aku merasa ini taktik penulis dalam mengasah pemikiran kita mengenai berbagai penyakit kejiwaan para karakter-karakter tersebut.

Haesoo dan Jaeyeol adalah dua karakter yang penuh dengan trauma akan masa lalu. Aku menyukai konsep yang satu ini, sekaligus ingin bertepuk tangan untuk sang penulis drama ini, Noh Heekyung yang telah mengangkat tema psikiater untuk pertama kalinya dalam k-drama. Dua karakter ini ‘mungkin’ tidak menyadari bahwa trauma mereka masih mengikat mereka satu sama lain. Atau mungkin hanya Jaeyeol yang tidak menyadari ini.
Titik pusat dari 4 episode drama ini sebenarnya adalah Jang Jaeyeol sendiri. Mungkin dengan selingan Haesoo dan beberapa karakter lainnya, tapi aku merasa Jaeyeol adalah karakter yang paling menarik dan misterius.

Melihat bahwa trauma Jaeyeol yang sudah melewati batas, aku mengerti bagaimana masa lalu-nya sangat mempengaruhi dalam caranya bertahan hidup. Seperti dengan warna-warna tertentu yang ada di dalam kamarnya dan penyakitnya yang berkaitan dengan kerapian. Karena twist yang mengejutkan soal Kangwoo yang ternyata adalah fantasinya, aku tidak mengira bahwa trauma yang dialami Jaeyeol bisa menjadi separah ini.

Bagaimana cara dia tersenyum dan bersikap kepada Kangwoo yang sebenarnya ditujukan kepada dirinya sendiri. Miris memang, tapi karakter Jaeyeol ini selalu menjadi bahan pikiranku dan tanpa sadar aku merasa sakit hati melihatnya seperti itu.
Lebih mirisnya lagi adalah kenyataan bahwa Jaeyeol sendiri tidak menyadari bahwa Kangwoo adalah tokoh khayalannya semata. Aku yang sekarang mengerti bagaimana konsep drama ini; menyembuhkan satu sama lain—pun mulai merasa sedikit penasaran dengan drama ini untuk melihat bagaimana para karakter-karakter ini menyembuhkan trauma kejiwaan yang disebabkan oleh masa lalunya.
Aku menyenangi drama ini untuk meilhat hal-hal ajaib macam apa lagi yang bisa diberikan penulis kepada karakter-karakter menarik dalam drama ini. Semua hal yang berkaitan dengan kejiwaan membuatku sedikit terpana dan sadar akan kenyataan bahwa dunia ini tidak sesempurna yang kita impikan. Bahwa seharusnya manusia bisa lebih peduli lagi satu sama lain; saling menyembuhkan satu sama lain tanpa harus mengalami yang namanya trauma. Sangat mendalam tapi memang dibutuhkan untuk kita.

Makna drama ini akan sangat penting dan aku berpikir drama ini bukanlah sebuah rom-com biasa. Banyak amanat yang sedang disampaikan, aku sendiri berharap penulis bisa menyelesaikan drama ini dengan clear-cut ending sehingga tidak lagi menimbulkan banyak spekulasi. Isu penyakit kejiwaan ini memanglah sangat sensitif untuk dibicarakan, tetapi bagiku, ini adalah suatu hal yang ‘perlu’ diketahui untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Oke, back to the topic. Aku akan membicarakan sedikit tentang episode 3 terlebih dahulu.
Mungkin ini hanya ciri-ciri dari drama ini sendiri, tapi aku berpendapat bahwa di setiap episode kita selalu bertemu dengan kasus yang berbeda-beda dalam hal pasien Hae-soo. Pertama wanita yang dipukuli oleh keluarganya karena operasi kelamin sehingga mengalami depresi. Aku tidak menyangka bahwa sebenarnya masalah kejiwaan pun bisa melekat begitu erat dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sebenarnya keluarga bisa menjadi alasan mengapa depresi terjadi. Untuk menilainya lebih dalam, aku merasa masalah kejiwaan justru disebabkan oleh orang yang paling dekat dengan kita. Karena saat sesuatu terjadi, orang itu yang akan kita pikirkan terlebih dahulu, bagaimana reaksinya nanti, dan apakah orang itu akan meninggalkan kita karena memiliki masalah kejiwaan seperti ini. Aku sendiri berpikir yang salah bukanlah si wanita, melainkan keluarganya yang harus dikonsultasi. Mengoperasi kelamin memang hal yang sensitif untuk dibicarakan, dan aku sempat merasa kesal karena aku berpendapat mengoperasi kelamin sama saja tidak menerima takdir yang diberikan Tuhan. Tapi melihat bahwa si wanita dipukuli keluarganya untuk masalah tersebut, aku mulai berpikir bahwa keluarganya melakukan hal yang lebih parah daripada apa yang dilakukan wanita tersebut. Walaupun kasusnya sensitif, aku berpikir bahwa menghargai keputusannya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Bahwa seharusnya kita menyemangatinya, karena ini juga pasti tidak mudah baginya, melihat bahwa sang wanita mengalami depresi mendalam akibat kekerasan dari keluarganya namun tetap menerimanya.

Pasien kedua adalah Hwan, yang mengalami sedikit masalah kejiwaan karena hobi menggambar organ kelamin. Aku menyukai fakta bahwa Jaeyeol-lah yang memberikan jalan untuk kasus Hwan ini. Dan lebih senangnya lagi, karena Haesoo adalah orang terbuka soal pendapat, dan bahkan meminta pendapat Jaeyeol untuk urusan pasiennya. Aku juga mengira-ngira kenapa kira-nya Hwan memiliki hobi ‘tidak biasa’ seperti ini. Dan saat menemukan jawabannya—ia menemukan ibunya tidurnya dengan pacarnya—aku belum bisa benar-benar ‘connect’ dengan alasan yang diberikannya. Tetapi, aku lalu tersadar bahwa ternyata peran ibu dalam keadaan psikis anaknya memang penting. Saat si anak menemukan ibunya seperti itu, ada pikiran-pikiran bahwa ibunya akan mengabaikannya dan meninggalkannya suatu saat nanti. Kasus Hwan ini sedikit mirip dengan Hae-soo hanya saja Hwan berusaha mengatasi traumanya dengan cara yang tidak biasa.

Pasien ketiga memiliki penyakit sama dengan Jaeyeol, yaitu penyakit yang berkaitan dengan anti-kotor alias kebersihan yang sering disebut OCD (ups, aku lupa kepanjangannya). Lucunya pasien yang satu ini sangat berlebihan dan aku menyukai bagaimana Hae-soo selalu teringat kejadian ‘kiss’-nya dengan Jae-yeol saat tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang sama dengan Jae-yeol. Mungkin kasus yang satu ini tidak lebih parah daripada dua yang di atas, tapi aku merasa setiap penyakit kejiwaan yang dibahas dalam drama ini selalu memiliki 1 inti: setiap manusia, sadar atau tidaknya, memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu. Mungkin bukan trauma, tapi jelas mengarah ke masalah kejiwaan dimana kita merasa baik-baik saja, tetapi orang berkata lain tentang hal itu.
Permasalahan mengenai kejiwaan selalu menjadi topik ‘sensitif’ untuk dibicarakan, tapi aku suka dengan fakta bahwa Penulis Noh bahkan mengambil satu langkah besar dalam mengangkat topik ini dalam bentuk sebuah k-drama. Tidak ada manusia yang benar-benar bahagia tanpa sebuah luka. Dan masalah kejiwaan sebenarnya adalah isu penting yang dibutuhkan untuk mengenal dunia ini lebih jauh. Sama seperti kedua karakter utama kita, Ji Haesoo & Jang Jaeyeol.

Haesoo yang dari luar terlihat smart, angkuh, keras kepala namun profesional pun memiliki semacam trauma walaupun dirinya sendiri adalah psikiater. Dan bagusnya lagi, dia tahu akan trauma tersebut dan mencoba mengatasinya dengan berbagai cara; termasuk konsultasi dan perawatan untuk dirinya sendiri. Traumanya terhadap seks memang bisa dibilang masuk akal, dilihat dari sebabnya. Bahwa orang-tua sebenarnya berdampak besar bagi keadan psikis anak-anaknya. Dan aku menganggap ini sebagai sebuah sampel yang baik untuk kita pelajari, dan aku merasa karakter Haesoo ini sangatlah baik dilihat dari caranya yang mencoba untuk mengatasi traumanya yang satu ini. Mungkin ada alasan lain dibalik semua traumanya, tapi aku merasa salah satu poin yang membuat Haesoo bisa mengatasi traumanya hingga saat ini adalah orang-orang terdekat yang selalu mendukung dan menyemangatinya dari belakang. Karena tidak mungkin tidak alasan bagi Haesoo untuk menjalani perawatan dan konsultasi untuk trauma-nya yang satu itu. Dialog-nya bersama mantan pacarnya, PD Choi terlihat begitu tulus, sehingga aku mengira Haesoo juga berusaha keras untuk menjalani hidup yang lebih baik dan normal seperti manusia lainnya. Ini sedikit mengingatkanku dengan semangat seorang manusia dalam mengatasi masa lalu yang menjadi titik tolak permasalahannya yang dalam hal ini berkaitan dengan kejiwaan.
Dan yang kedua adalah Jang Jaeyeol. Kesan pertama kita kepada karakter yang satu ini pastilah seorang penulis misterius yang perfect. Siapa yang mengira bahwa Jaeyeol mengalami masalah kejiwaan yang sudah melewati batas normal?Dan lagi-lagi, masa lalu menjadi titik pusat permasalahannya. Jaeyeol sendiri memiliki banyak keanehan yang belum terjawab secara jelas, seperti kenapa dia selalu mengunci kamar mandinya. Aku berpikir bahwa kebiasaanya mengunci kamar mandinya sebagai bentuk perlindungan diri karena masa lalunya itu. Karena kita tahu bahwa Kang-woo adalah tokoh khayalan Jaeyeol, aku mulai berpikir bahwa sebenarnya Jaeyeol berniat sembuh dari traumanya lewat Kang-woo. Kang-woo, seorang anak SMA korban penganiyayaan ayahnya, adalah fantasi Jaeyeol yang sebenarnya adalah dirinya saat muda. Jaeyeol mencoba menyembuhkan traumanya lewat tokoh fantasi yang dia buat, mencoba menyakini bahwa tindakan yang dia lakukan di masa lalu adalah benar & dia sama sekali bukanlah pihak yang bersalah. Aku turut sedih dengan traum-nya ini, melihat bahwa sebenarnya Jaeyeol hanya ingin melindungi ibunya dari ayahnya di masa lalu. Di sisi lain, Jae-bum berkata bahwa adiknya, Jaeyeol membunuh ayah tirinya. Aku tidak sepenuhnya percaya dengan pernyataannya itu, melihat dari flashback yang diceritakan Jae-bum, Jae-yeol tidak sepenuhnya bersalah karena pembunuhan ayahnya itu. Aku mulai memikirkan berbagai spekulasi, dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah tiri mereka. Melihat dari dialog Jaebum dan Jaeyeol, aku berpikir bahwa bukan hanya ayahnya, tetapi Jaebum juga turut menganiaya Jaeyeol di masa lalu. Dan aku mulai berpikir bahwa kematian ayah tiri mereka bukanlah salah siapa-siapa. Di ingatan Jae-bum, Jaeyeol hanya berdiri memegang pisau, dan tiba-tiba ayah mereka muncul dan tertusuk dengan pisau yang dipegang Jaeyeol. Aku berpikir kematian ayahnya disebabkan oleh ketidaksengajaan. Dan aku berpikir alasan mengapa ibunya tidak memberikan penjelasan saat ditanya jaksa, itu karena Jaeyeol-lah satu-satunya yang melindunginya saat ayah tiri mereka memukuli ibu mereka. Aku merasa tidak sepenuhnya mengerti mengenai latar belakang keluarga Jaeyeol, jadi aku berpikir untuk tida terlalu menebak apa dan bagaimana kematian ayah tiri mereka—yang ternyata memiliki kaitan erat dengan trauma Jaeyeol.
Alasan mengapa drama ini dikatakan menarik adalah ceritanya yang ‘tidak biasa’ dan dialognya yang selalu menyimpan clue dari setiap sebab trauma dari masing-masing karakter. Itu makanya, kita harus benar-benar memperhatikan setiap detik dan apa yang diucapkan karena kehilangan sedetik saja berarti kita sudah kehilangan satu bukti tentang kemisteriusan karakter-karakter yang ada di drama ini.

Aku menyukai 2 episode ini sebagai pembuka yang lebih lebar lagi terhadap banyak pertanyaan mengenai masing-masing tokoh terkait dengan latar belakang mereka masing-masing. Aku menyukai 2 episode ini sebagai alasan untukku tetap melanjutkan drama ini. Dan aku menyukai 2 episode ini dengan semua twist yang sebenanya sudah bisa ditebak, tetapi tetap saja terasa mengejutkan bagi kita semua.
Kubilang sekali lagi, drama ini tidak mudah. Karena bukan tokoh2 normal yang kita temui, di sini kita berhadapan dengan dua hal: karakter dan latar belakang masalah kejiwaan mereka yang rumit bin pening. Namun, aku menilai drama ini brilian dari segi plot, perkembangan karakter, dan sinematografinya yang keren. Because it’s okay, that’s love.

See you on the next post.


- Keya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Book Rant: Antologi Rasa by Ika Natassa

Well, well, well. First, this is not a spoiler-free rant, read this on your own risk. I just can't believe that I've spent nea...